Jumat, 28 Agustus 2009

Looking Expensive On Me

Gw nggak bermaksud ge-er, tapi kayaknya gw punya aura khusus yang bisa bikin baju apapun yang melekat di tubuh gw jadi kelihatan mahal. Omongan gw ini sudah dibuktikan pula oleh pengalaman kesaksian dari orang-orang di sekitar gw yang memperhatikan penampilan gw.


Perasaan, aura gw ini sudah ada sejak gw duduk di bangku SMA. Nggak terhitung udah berapa banyak orang dalam hidup gw yang menanyakan di mana dan berapa harga baju yang gw pakai dalam berbagai kesempatan. Waktu acara party Sweet Seventeen temen gw yang diadakan di diskotik pada masa itu, ada ajang pemilihan best-costume buat tamu-tamunya. Dan ternyata, waktu itu gw yang terpilih sebagai pemenangnya. Masih inget banget, deh....gw disorot lampu disko dan didaulat naik panggung untuk nerima hadiah khusus dari temen gw. Gw juga masih inget baju yang gw pakai saat itu, terusan jumper warna biru yang gw padu-padan sama atasan kaos frill plus necklace. Penilaiannya waktu itu betul-betul obyektif, lho...soalnya sebetulnya gw juga nggak terlalu akrab sama yang punya gawe party tersebut. Temen gw itu betul-betul hanya teman biasa, bukan sahabat yang karib banget. Yang menilai best-costume adalah para kerabat dan keluarganya.


Gw juga pernah pas jalan-jalan di Pasaraya Blok M, tau-tau ditanyain sama seorang ibu-ibu kayak gini,”Dik, boleh tahu nggak beli roknya itu di mana?” sambil dia ngeliatin ngiler ke terusan rok yang gw pakai saat itu. Padahal, rok yang gw pakai saat itu hasil hunting beli di Ramayana Dept. Store, Pasar Ciledug. Boleh percaya atau enggak! Tapi, dasar gengsi, gw bilang belinya di Sogo ^ ^


Waktu kuliah, gw juga sering dibilang punya style berpakaian yang asyik oleh teman-teman gw. Nggak sedikit yang nyangka baju-baju gw keluaran butik-butik mahal. Padahal.....gw lebih sering beli baju di pasar atau toko-toko kecil, dan kisaran harganya paling mentok Rp 150.000,-. Kalaupun sekarang gw udah bisa beli baju-baju bermerek, tetep aja nggak ada yang harganya nyampe Rp 500.000,-!! In my opinion, bener-bener nggak ‘manusiawi’ banget, kalo selembar baju harganya bisa nyampe Rp 500.000,-. Seingat gw, baju paling mahal yang gw punya harganya Rp 375.000,-. Itu baju merek Miss Selfridge, yang udah didiskon dari harga asalnya sekitar Rp 650.000,-.


Mungkin....mungkin lho yah, aura spesial gw inilah yang membuat baju-baju murah terlihat jadi mahal kalau gw pake. Mungkin juga karena ‘taste’ gw, yang bisa memilih baju murah dengan penampilan terkesan mahal punya. Makanya, gw tuh sebenernya seneng lho, kalau browsing baju di dept. store ‘rakyat’ kayak Ramayana, Pojok Busana, Orange atau ke flea markets. Kalau ke mall, favorite gw adalah MTA dan CL, karena di sana banyak butik yang menjual baju-baju stunning dengan harga nggak lebih dari Rp 150.000,-. Memang gw juga senang keluar-masuk butik high-end kayak Mango, Zara, Guess, Topshop dan sejenisnya. Tapi, transaksi belanjaan gw paling banyak ya di butik-butik kecil tadi.




Salahsatu kerabat gw termasuk yang paling sering memperhatikan penampilan gw. Meski dia nggak pernah telak-telak bertanya pada gw (mungkin karena gengsi), gw tahu dia penasaran sama baju-baju gw dari tindak-tanduknya. Dia suka sepintas berkomentar,”Mia bajunya bagus, deh”. Terus, saat kita jalan-jalan, dia masuk ke beberapa butik dan nyari baju yang modelnya mirip-mirip dengan yang gw pake. Tapi saat gw intip tag harga baju yang dibelinya...wow! Kisarannya Rp 250 ribuan ke atas. Sedangkan baju yang gw beli, harganya nggak nyampe segitu. Wrong place and wrong price, I think!


Yang kejadian baru-baru ini, temen gw yang status karirnya sebagai Editor-In-Chief sebuah majalah trend remaja, memuji legging jadul yang gw pakai saat kita ketemuan. As I’ve said before.....it’s vintage, alias jadul! Waktu dia tanya legging itu gw beli di mana n how much, gw bilang legging bermotif tersebut udah nggak ada yang jual sekarang. Itu legging warisan dari nyokap gw dan seingat gw, dibeli nyokap seharga Rp 10.000,- pada saat itu. Temen gw itu kaget dan terkagum-kagum ngiler, sampe akhirnya dia minta foto gw saat itu juga. Hahaha....mungkin foto gw dengan legging vintage itu mau dia bikin tiruannya!


Darisitu gw semakin yakin dengan keberadaan aura yang bisa membuat anything looking expensive on me. Asal dengan catatan, harus gw sendiri yang memilih barang murah tersebut, ya. Soalnya ini berhubungan dengan masalah ‘taste’ dan mata gw yang memilihnya sendiri. Andai gw disuruh pakai kaos seharga Rp 25.000,- hasil pilihan orang lain, gw ogah. Soalnya, selera pilihan orang tersebut bisa tetep ketahuan nilai harga aslinya. Sedangkan kalau gw yang memilih, kaos Rp 25.000 bisa jadi seperti kaos merek JunkFood atau Metrox yang harganya sampe ratusan ribu Rp.


Ada orang-orang yang gw ketahui punya gengsi berlebih; mereka belanja bajunya nggak pernah mau kalau di bawah harga Rp 500.000,-. Tapi toh, baju seharga gopek lebih itu terlihat jadi kayak seharga Rp 50.000,- begitu mereka pakai. Gw kebalikannya! Maaf....gw nggak bermaksud mengejek sih; tapi hanya ingin mengungkapkan rasa bersyukur gw karena gw dianugerahi kemampuan berkesperimen berbusana tanpa perlu menguras isi dompet dalam-dalam. Gw kayaknya dikaruniai gen yang termasuk bagus untuk soal pilah-pilih baju dan apparel pelengkapnya. Sehingga, gw bisa selalu terlihat stunning, tapi sebetulnya budget yang gw keluarkan untuk bisa terlihat begitu nggak perlu “usaha ekstra keras”.


Tapi herannya nih, gw nggak bisa melakukan hal itu untuk orang lain. Hahaha......jadi, mohon maaf deh buat orang-orang yang minta bantuan gw untuk memilihkan baju buat mereka. Secara mungkin gw juga ragu apakah selera gw bakal cocok dengan mereka atau enggak, dan bentuk fisik juga pasti berbeda. So, I can only do this “magic trick” just for me as an icon. Kalau kiblat pemakainya adalah diri gw sendiri, gw pasti bisa banget melakukannya. Soalnya, ‘kan hanya gw sendiri yang paling tahu kelebihan maupun kekurangan gw....hehehehe.

Semarang Vacation, July 2009




Pic #1:
Tshirt: Gaudi
Yellow skinnypants: Mango
Black cap: buy in Singapore
Slingbag: Miss Selfridge
Tartan keffiyeh: LM for Hardware
Pic #2: same to #1, except:
Floral brown dress (dipakai di bawah tshirt): vintage from my closet
Black legging: vintage from my closet
Pic #3:
B/W stripe cappuchon shirt: buy in HK's market
Yellow skinnypants: Mango
Pink bag: magazine's gift
Black gladiator: special custom order from online shop


Princess of Persia :P














Fringe top: Zara
Floral legging: vintage from Mom's
Blue tartan shawl: Pull and Bear
Black gladiator: special custom order in online shop
Slingbag: Miss Selfridge
Wooden bangles: buy in Bali



Mazee, FX Lifestyle Center







Black Cat's face loosetop: Zara
Grey legging: GoGirl magz' gift
Shawl: buy in Tian Yi Market, Beijing
Maroon wedges: buy in online shop
Maroon bag: Sophie
Lolita corsage hairpin: The Loft n The Attic

One day to another


Left pic:
in MTA Condominium, Jkt
Top: Club Monaco
Bag: Next
Trouser: Bluestar


Right pic:
in Pacific Place, Jkt
Vintage purple dress:
from flea market in Shibuya
Yellow belt: ManggaDua
Corsage necklace: Gaudi
Watch: Esprit
Slingbag: Miss Selfridge

Kamis, 06 Agustus 2009

My Private Garage Sale

When? August 8-9 2009
What time? 09 AM - 03 PM each day
Where? Hall Wesling Kedoya Apartment, Puri Kembangan, West Jakarta
Any brands? Some items from Zara, Mango, Body & Soul, X (SML), Billabong, Rip Curl, Surfer Girl, Roxy, H & M and many more
Price range? Rp 10.000 - Rp 150.000


Nggak ada acara akhir minggu ini? Gimana kalau iseng-iseng mampir ke garage sale kita? Huahahaha...(digampar krn posting-nya mepet-mepet ^^;;;).


Ini acara garage sale gw yang pertama gw gelar bareng sepupu gw. Berhubung lemari udah "muntah" karena isinya kepenuhan, jadi kita sepakat melakukan pembersihan gede-gedean ^^


Buat yang lagi nyari baju bakal Lebaran, bisa mulai dari sekarang nih...khikhikhikhi. Baju-baju yang gw jual 95-99% masih OK punya koq, meskipun 2ndhand. Pokoknya masih layak pakai semua dan kita jual murah semurah-murahnya, berhubung misinya adalah ngosongin lemari...bukan ngejar laba!!! Hehehehe.....


Ok? Ok? Dateng aja ke Hall / Ruang Serbaguna Apartemen Wesling Kedoya, di daerah Puri Kembangan (dekat pom bensin Puri Indah).
Ayo....kapan lagi bisa beli baju-baju 2ndhand bekas kita yg keren tapi pake harga murah (huahahaha.....kita2 bebas penyakit kulit apapun lho! 'Kan terawat selalu ^0^)
Happy shopping! ^^

Senin, 27 Juli 2009

being model for Lenny Agustin's works



Selama ini sebenarnya gw diam-diam termasuk yang menggemari karya-karya desain busana Lenny Agustin, perancang mode dalam negeri yang kiblat modenya ke arah youngster’s trendstyle dan sudah cukup diperhitungkan dalam dunia mode Indonesia. Gw menyukai karya-karya desainnya karena karyanya meneriakkan kebebasan jiwa muda yang full of energy dan eksperimental; dan itu pas banget dengan selera gw. Istilah kerennya: “Gw banget gitu”!! I love the bright-colors yang selalu hadir dalam karya-karya mbak Lenny dan model busananya yang bagi sebagian orang Indonesia mungkin masih terkesan “aneh bin ajaib”; namun buat gw yang penggemar Harajuku streetstyle, kesannya keren dan berani eksperimen.

Kesukaan gw pada karya Lenny Agustin sudah dimulai sejak gw melihat karya busananya untuk para finalis Gadis Sampul (tahunnya gw lupa). Waktu itu di majalah Gadis, para finalis Gadis Sampul didandani dengan rancangan mbak Lenny untuk rubrik fashion-nya. Gw langsung jatuh cinta......, meski selama ini terus-terang aja gw belum memiliki satu lembar pun baju rancangannya karena......masih belum sanggup kalau melihat harganya, hehehe. Gw cuma bisa mengamati karya mbak Lenny kalau ada pameran para desainer; misalnya di ajang Food & Fashion Festival setiap tahun. Waktu itu gw juga sempat melihat profil mbak Lenny dimuat pada Kompas Minggu. Dasarnya emang kagum, jadilah artikel profilnya itu gw simpan sebagai kliping.

Nggak diduga, pucuk dicinta ulam tiba. Nggak ada hujan, nggak ada angin, tiba-tiba saja gw diajakin teman gw untuk ikut pemotretan di suatu kesempatan. Dan pemotretan itu ternyata....buat karyanya mbak Lenny. Gw nyaris pingsan nggak percaya waktu diajakin gitu. What...? Why....? How....? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di kepala gw, secara gw ‘kan just an ordinary people gitu. Hanya saja, gw dan teman-teman gw ini memang punya komunitas hobi yang terbilang masih cukup ekstrim untuk kapasitas masyarakat Indo, yaitu komunitas cosplay. Kita-kita ini berani eksperimental lewat cara ber-cosplay. Ternyata, justru inilah yang menarik perhatian seorang Lenny Agustin, hingga akhirnya dia mengajak agar kita-kita ini turut serta.

Jadilah tanpa pikir-pikir lagi, gw langsung OK untuk tawaran itu. Kerjaan pun sampe rela gw tunda dulu (minta cuti, hehehehe....). Siapa nyangka, gw malah bisa diajak ikut serta kerja bareng desainer lokal idola gw, dan......dan......memakai baju rancangannya yang mimpi pun nggak pernah gw bayangin!!!!

Pemotretan berlangsung pada tanggal 23 Juni 2009 di PI dan EX. Sebelumnya, kita malah digiring dulu oleh mbak Lenny ke butiknya di Jl. Setiabudi untuk pilih padu-padan antara kostum kita dengan rancangan beliau. Gw nggak bakal melewatkan kesempatan berharga ini....jadi, gw udah prepare banget mbawa kliping artikel tentang mbak Lenny yang dulu gw potong dari Kompas. Terus, gw nodong beliau minta tandatangannya, wahahaha. Of course she was really excited.....mbak Lenny ternyata memang humble banget orangnya. Gw puas banget karena bisa banyak foto-foto si mbak n her daughters yang cantik-cantik. Gw puas banget karena bisa dijepret-jepret pakai baju rancangan Lenny Agustin. Pertama kalinya (dan semoga bukan kali terakhir) gw bisa ketemu seorang desainer yang gw kagumi, bahkan diajak ikut pemotretan karya desainnya.

Nggak ada banyak kata yang bisa melukiskan gimana senangnya gw. Tentu saja, untuk temanku tersayang Usagi-Chan dan Lenny Agustin herself. Semoga di lain waktu kita bisa terus menjalin keakraban dan costume-playing lagi ya, mbak.
I rrrrrreeaaaallly love costume-playing, that’s the way I can appreciate myself.


(on pic: mbak Lenny nanda-tanganin artikel profilnya yang gw kliping dari Kompas. Dia ngasih gw pesan-pesan khusus ^^)

















Selasa, 07 Juli 2009

Narsis di Kamar Ganti

Ber-narsis ria di ruang ganti itu menyenangkan, lho!
Hahahaha......gw baru tahu sensasi “petualangan” ini belum lama. Tepatnya, seorang temen gw yang ngasihtahu waktu kami masuk ke butik Zara. FYI, jarang-jarang gw bisa berkesempatan shopping bareng teman. Biasanya, kalau niat mau shopping, gw justru sering melakukannya sendirian. Soalnya bukan apa-apa, gw emang orangnya malah nggak bisa fokus belanja kalau bareng orang lain. Kalau gw shopping bareng temen, biasanya niat beli barang A bisa berubah jadi barang B karena terpengaruh omongan orang lain (dan menyesal belakangan). That’s why usually I prefer to do my shopping-job alone by myself.

Balik ke bahasan topik, saat itu ceritanya kebetulan gw lagi masuk Zara bareng temen-temen gw, The Chi’s Sisters (gw meng-istilahkan begitu karena awalan nama dua bersaudari ini sama-sama diawali dengan “Chi” ^^). Saat itu weekend, jadi suasana butik favorit para sosialita Jakarta ini lagi cukup ramai. Gw ngeliat ada beberapa orang yang masuk ke fitting-room membawa setumpuk baju....yang sempet bikin gw bingung melihatnya. Dalam benak gw saat itu timbul pertanyaan begini: “Memangnya setumpuk baju itu bener-bener mau dibeli? Kasian banget mereka; kayak orang kekurangan baju. Lagipula, ‘kan ada pembatasan masuk fitting-room cuma boleh bawa maksimal 5 baju? Terus, setumpuk baju yang jumlahnya pasti lebih dari 5 potong itu mau diapakan?” Waktu itu gw masih “naif”, makanya wajar timbul pemikiran begitu, hehehe.

And then, gw lihat si Chi’s Sisters ini ternyata juga udah balik dengan setumpuk baju di tangan masing-masing. Gw melotot bengong. “Mau diapain sih tuh baju-baju?” tanya gw spontan. FYI lagi nih yah, dulu, gw emang nggak pernah masuk kamar ganti untuk mencoba baju kecuali bila ada baju yang bener-bener gw naksir dan gw mau beli! (bener-bener naif bin stupid kalo gw inget lagi). Tapi, mereka hanya nyengir kuda waktu gw tanyain begitu. Terus, si kakak bilang begini ke gw: “Nyoba-nyobain aja, ‘kan seru. Terus, kita foto-foto pake baju-baju tersebut di kamar ganti”. WHAAAAT....??? Gw melihat ke orang-orang lain yang lalu-lalang di dalam butik itu sambil nenteng-nenteng setumpuk baju. “Me...memangnya boleh? Orang-orang itu memangnya juga melakukan kayak gitu?” tanya gw kayak anak kecil baru diajarin salahsatu trik. Eh, mereka malah ngetawain gw. “Ya iyalah.....Lo pikir tuh baju bakal mereka beli semua? Mereka tuh cuma nyoba en foto-foto di ruang ganti lagi! Udah banyak koq yang melakukan begitu,” jelas si adik. “Makanya, pilih aja baju yang harganya termahal tapi elo suka. Berhubung udah pasti nggak sanggup beli, mendingan coba terus difoto,” sambung si kakak. Oooooo.....mulut gw membundar.

Suerrr....! Gw baru tahu, ternyata begitulah yang dilakukan para sosialita dengan setumpuk baju tersebut. Nggak sedikit gw lihat para ABG yang juga melakukannya. Sampe pernah gw pikir, tuh ABG duit jajan dari bokapnya sejuta-dua juta ‘kali yeee...sampai bisa niat beli baju setumpuk! Ternyata....mereka itu bukannya niat beli, tapi cuma mau ambil kesempatan nyobain baju-baju mahal tersebut. Kebodohan gw yang selama ini nggak menyadari trik “having fun” baru ini.

Sekarang, setelah gw tahu, gw jadi keranjingan keluar-masuk butik untuk nyoba-nyoba baju. Seperti halnya para sosialita lain, gw nggak ragu browse n pick baju-baju yang gw taksir, tanpa gw pusing-pusing lagi melihat tag harganya. Kalo bajunya ternyata berharga sejuta lebih, justru makin napsu gw ngambilnya, huehehehe. Nggak penting apakah gw membelinya atau tidak, hehehe.... Gw baru tahu nikmatnya sensasi merasakan bahan yang dijual mahal tak terkira itu melekat di kulit gw! ^__^ Apalagi kalo bisa mix-match beberapa potong, buat nambah koleksi ide mix-match dari lemari sendiri. Gw juga sudah tahu bahwa kalau baju yang kita niat coba melebihi dari jumlah yang dibataskan, kita bisa menitipkannya dulu sebagian pada penjaga di depan ruang ganti. Pasti dibolehkan koq. Aaah...senangnya bisa foto-foto pake baju-baju mahal. Berasa kayak Paris Hilton deh.

Tapi, jauh di dalam hati kecil gw, sebenernya gw timbul rasa kasihan juga sih sama penjaga yang bertugas merapikan baju-baju itu. Bayangin aja kalau satu orang masuk dengan 5 baju dan mereka cuma iseng coba-coba. Andai dalam satu hari ada 100 orang yang masuk ruang ganti dengan niat begitu, bayangin aja berapa potong baju yang mesti dilipat oleh si petugas dalam 1 hari? Dan itu mereka lakukan setiap hari! Ehehehe....kalau mikirin ini, gw simpati juga sama petugasnya. Apalagi kalau abis nyoba-nyoba, tuh orang-orang dengan “biadab”nya numpukin baju-baju yang udah kusut itu sambil ngeloyor seenaknya tanpa ba bi bu lagi. Gw sih, minimal masih selalu beralasan ,”Maaf, mbak. Nggak ada yang pantes modelnya di badan saya. Saya coba lihat yang lain dulu, ya.” Terus, pura-pura muter sebentar di dalam, lalu.....kabur secepatnya dari butik itu ^____^;;;

Gw harap, nggak bakal ada larangan untuk orang nyobain baju di ruang ganti butik setelah gw posting tulisan tentang kesenangan baru ini. Hehehe. Soalnya bagaimanapun juga, rasa senang mencoba-coba baju ini juga bisa memberikan obat atau terapi jiwa buat mengusir be-te, kesal atau sedih. Andai ada butik yang menerapkan larangan mencoba baju buat para pelanggannya kecuali betul-betul tuh baju mau dibeli, bisa-bisa gw dan para sosialita ini nggak bakalan mau lagi melangkah masuk ke butik tersebut. Sekalipun gw suka nyoba-nyoba setumpuk baju, minimal ada juga sih 1-2 baju yang gw jadi beli. Jadi, sebenarnya hal ini juga bisa untuk mendongkrak penjualan butik, meski yang dibikin repot adalah petugas yang mesti melipat-lipat bajunya lagi.

Hehehe....buat mbak atau mas yang bertugas jaga di ruang ganti dan melipat-lipat baju, sekali lagi maaf yaaaaaaaaaaa....!!!!!

Shopping Anymore....??





Lagi-lagi.....target nabung gw bulan ini jebol pertahanannya! Bener-bener nggak nahan deh liat sale di mana-mana. Niat cuma mau cuci mata sambil mak-si sebentar keluar kantor, akhirnya berakhir dengan jinjingan oversized t-shirt Zara dan semi-jaket Juicy yang keren ini. Nggak tahan jiwa, melihat stok baju-baju ini masing-masing cuma tinggal satu, modelnya nggak pasaran dan harganya dipangkas...kas....kas.


Huhuhuuuuu....meski gw tahu it worth to keep, meski temen gw yang liat pada muji-muji pilihan gw yg mereka bilang jitu, meski harganya nggak mahal-mahal amat, tapi tetep aja ada guilty-feeling yang nyusup nih.

Musim diskon 2009

"Sialan! Mannequin itu menggoda iman....
kenapa dia dikasih baju lebih bagus daripada gw??
Kenapa tuh baju diskon sampe miring banget?
Kenapa butik-butik bisa pada kompakan ngadain sale
saat dompet lagi cekak....???"


Hmmm...nulis apa, ya? Kalau dilihat kilas balik isi blog gw ini, I know it was being too long for me to write-on. Gw emang udah kelamaan nggak update blog fashion gw di sini. Padahal, sebenernya banyak banget pengalaman yang gw dapatkan sehubungan dengan hobi gw hunting barang fashion selama vakum menulis kemarin-kemarin ini.

Karena udah kelamaan nggak nulis, gw mulai aja dari cerita soal musim diskon di holiday-season saat ini. Kalo gw perhatikan koran mulai dari masa sebelum liburan sekolah bulan Juni-Juli, sebetulnya udah banyak banget iklan gede-gede tentang butik Anu sale up to 50%, further reduction sale di butik Itu, sampe exclusive sale di butik Inu (Ini dan Itu :D), etc......yang semua tagline iklannya gw yakini bakal bikin horny semua perempuan pecinta fashion-shopping kayak gw! ^^ Jadi ringkasnya, yang namanya sale-sale itu udah dimulai sejak masa pre-liburan sekolah sejak sekitar bulan Mei 2009 lalu.

Salahsatu even diskon yang pernah gw sempet datengin adalah exclusive sale untuk brands Topshop, Pull and Bear, Marks & Spencer, Oasis, Miss Selfridge, Zara, Rotelli etc di The Hall, SenCi. Dari situ gw ngebawa pulang syal Pull and Bear, selembar rok Topshop n adorable Miss Selfridge’s slingbag. Slingbag berwarna broken-white itu selalu menemani gw selama beberapa hari terakhir ini. Karena bentuknya praktis namun penampilannya tetap cute, makanya gw jadi suka membawa-bawanya. Prioritas gw dalam membeli sesuatu: sedapat mungkin benda itu memang harus yang berguna buat dipake. Jadi nggak ada tuh istilahnya kalap belanja dan barang yang udah dibeli nggak pernah dipakai.

Beberapa hari kemudian, butik Zara dan Mango menggelar discount sale resmi for public yang masih berlangsung hingga saat gw ngetikin blog ini lagi. Dari Zara, gw bawa pulang long-dress purple yang bikin gw berasa jadi princess saat gw nyobainnya (padahal setiap beli baju, pasti berasa seperti gini terus sih; setiap kali nyobain baju yang sreg di hati. Hehehe). Dan merek Mango.....one of my favorite brand, bener-bener susah gw lewatin meski gw udah berlagak “buta” sekalipun. Iyee....mata memang udah dimerem-meremin saat melintas di depan butiknya. Tapi, entah kenapa, syaraf otak memerintah kaki gw untuk berjalan bengkok dan membelok masuk ke dalam butik tersebut ^^;;;; Cobaan pun berakhir dengan satu helai baju krem berkerah ruffles yang so comfy......dan guilty-feeling gw yang muncul belakangan, huehehehehe. Nggak cukup satu kali itu aja, akhir minggu ini pun gw membeli lagi sehelai kaos yang udah di-diskon jadi Rp 189.000,-.

Bener deh, di musim butik pada sale kayak gini, iman shopaholic gw berasa bener-bener dicobai. Padahal, jujur gw akui, baju-baju gw tuh udah numpuk dalam satu lemari 4 pintu! Semuanya baju gw sendiri....nggak ada masukan baju orang lain!!! Belum lagi koleksi tas gw di lemari bagian atas. Tas-tas itu sampe sebagian gw masukin ke space-bag (kantong yang bisa meng-vakum udara tanpa membuat barang yang disimpan jadi rusak, demi agar bisa memberi ruang untuk barang-barang yang disimpan). Andaikan gw nggak masukin ke space-bag, gw yakin koleksi tas gw itu bakal kayak isi lemarinya Rebecca Bloomwood. Begitu pintu lemarinya dibuka, tas-tas pun berjatuhan menimpa :D

Well, I know that limit, tapi sama seperti dilema para fashionista shopper umumnya, gw tetep aja nggak bisa betul-betul menghentikan kesenangan ini. Perasaannya sama kayak perokok berat yang disuruh berhenti total (lucky, I’m not a smoker). Lucky again, gw bukan shopper yang impulsif (or maybe not yet....hehehe...but hopefully; never). Gw rasa, gw masih termasuk dalam kategori not addicted too much. Saat musim diskon butik gini, tas belanja yang gw jinjing masih 1-2 buah, dengan total bon belanja paling maksimal hanya mencapai sekitar Rp 500 ribuan. Gw sering lihat, cewek-cewek seumuran gw ataupun para ABG yang jinjingan tas belanjaannya bisa sampe 6-8 tas. Saat antre bayar di butik Zara atau Mango, gw pasti selalu nemu cewek di depan gw yang transaksi hingga lebih dari Rp 1 juta. Bukannya gw jealous lho yah; malah gw justru merasa bersyukur dalam hal ini karena menyadari bahwa gw ternyata masih “tahu diri” dan masih “menginjak bumi”. Hidup nggak cuma untuk belanja fashion-things....meski fashion things itu memang penting untuk menunjang gengsi; kira-kira begitu deh prinsip gw.

Meski begitu, harus tetap gw bilang bahwa musim diskon memang selalu gw nantikan. Ada rasa senang di satu sisi karena mendapat barang idaman dengan harga diskon, meski ada juga rasa dongkol di sisi lain karena butik-butik yang kompakan menggelar diskon; kayak di even Jakarta Great Sale begini, bikin dompet cepet kurus. Ngegemukin dompet udah susah...; masih untung kalo nggak sampe tergelitik untuk nguras tabungan! Barusan gw ngecek email, ternyata gw dapet undangan ke re-opening butik Surfer Girl yang baru di SenCi. Tentunya dengan iming-iming diskon spesial pula! Masih maju-mundur mau datang atau enggak.

Uuuuh...dasar musim diskon; dibenci namun juga didamba.....ahahahahaha.